Senin, 04 Februari 2013

Cuma Sebatas Aku

Aku ini api, Kalian yang menyalakanku tampak senang. Tapi ketika aku mulai membakar. Semua mengutuk aku.
Aku ini air, Kalian selalu membuangku. Namun ketika aku menangis, Akulah bencana.
Tuhan, mengapa aku tak beda dengan udara? Dicari oleh semua yang bernafas. Tapi tak seorang pun tau keberadaanku.
Jika kalian semua, menganggapku manusia setengah malaikat. Kalian SALAH !
Karena aku,
adalah api yang menghitamkan hidup kalian. adalah air yang menggigilkan tubuh kalian. dan udara yang selalu merasuk ke tulang kalian.
Hingga kalian MATI.
***

Senin, 15 Oktober 2012

Kamu !!!

Di lengang keningmu, aku duduk dan menunggu dinding-dinding kosong berubah menjadi hamparan laut.
Tiap senja tiba aku berdoa, semoga matahari terbenam ke dalam laci kamarku dan terbawa ke masa lalu.
Masa ketika kita masih saling bergantian mencubit hidung, di latar deru gemulung ombak yang juga bergantian datang usai menempa-nempa mendung.
Masih di sini, di lengang keningmu, aku melihat wajahku tumbuh sempurna di tunas-tunas alismu.
Entah berapa masa kau memupuk kerinduan yang kuwariskan di gembur kecupanku yang pernah kaulewatkan.
Seperti dulu. Seperti saat kau menangis di airmata yang menangis di dalam airmataku.
Hingga akhirnya, kau memanggilku kembali, satu-satunya cara agar aku tak bosan untuk menghadirkan diri.
Sebagai lelaki yang menghuni lengang keningmu.
Yang turun, yang hendak berlutut di depanmu, seraya terburu-buru meranggaskan sayap..
-Andi M E Wirambara-

Senin, 24 September 2012

Kesendirian yang berarti..

Semalam, bulan bersinar terang. Sedikit tertutup awan tipis.
Terlihat seperti berkabut. Cantik.
Memandangnya dari bawah membuatku tersenyum.
Melayangkan pikiranku pada mereka, lagi.

Semalam, wajahku mungkin bersinar. Tapi tidak hatiku.
Hatiku berkabut, lebih kelam dari sinar yg tertutup awan tipis.
Miris. Menyedihkan.
Aku menatap keluar jendela,
namun hanya sesak yang kudapat.

Paginya, bibirku tersenyum,
sekedar menyambut pagi dan mengawali hariku tanpa beban.
Palsu. Maafkan aku.
Aku masih belum bisa ikhlas menerima semuanya.
Semua-muanya.


Aku hanya tak ingin menambah beban kalian.


Siang ini, aku kembali pada kenyataan. Menikmati kejujuran pada diri sendiri, setidaknya. Kupuaskan diriku mengingatnya, mengenang, dan berangan-angan. Seandainya semua bisa di sini, seandainya semua tak pergi, seandainya... seandainya... dan seandainya... kuambil sebuah pena dan menuliskan...

De,
akan kubisikkan padamu seuntai kata
apa yang benar membuatku bahagia

jiwa yang resah oleh seribu pertanyaan
pertanyaan menyedihkan

mungkinkah kamu disini
bila tanganku terus saja memberi..

bisakah kamu mengerti
bila hatiku tak henti mengasihi..

akankah hasratku kering
bila sumberku terus saja di timba para musafir..

akankah aku terpenjara dalam gulita
bila cahaya yang meliputiku menjadi suluh bagi pejalan yang tersesat..

apa yang hilang dari diriku
bila aku lebih banyak mendengar dan berhenti bicara..

apakah aku akan mati rasa
bila hatiku dicuri oleh pengemis cinta di setiap jalan..

bahaya apa yang akan menimpaku
bila hatiku senantiasa diam dalam kesalahan..

kematian apa yang aku pedihkan
bila aku tak pernah merasa kehilangan..
seperti kau kehilanganku..


De,
dalam perjalananku kutemukan jawabannya,
bahwa sungai tak pernah dendam pada laut
sedang laut tak pernah iri pada mentari
karena mereka mengerti darimana mereka datang
dan kemana mereka akan pergi

kebahagiaan adalah sungai yang bertemu lautnya
seperti juga kemudian kupahami
kemana seharusnya air mataku bergulir,

selain keharibaan para pecinta sesama
kemana seharusnya senyumku terkembang,

selain ke dalam hati para kekasih Allah.

Kuhentikan tulisanku sambil menghapus airmataku..

Kini kusadari, aku berubah...
Maaf, mungkin akhir-akhir ini aku lebih sering menghilang, dan... berbeda.

Maaf. Aku sedang butuh waktu untuk diriku sendiri.

Bukan karena aku tak percaya, tapi aku sedang ingin menikmatinya, sendiri.
Walau terkadang bersama bulan, bintang, dan hujan saja bisa membuatku mengerti....

...kalau aku begitu berarti di antara kesedihan kalian....


* * *


Rabu, 04 April 2012

★~★~★~Aku Pernah Menjadi Bintang di Langit~★~★~★

Aku pernah menjadi bintang di langit,
Yang berkedip di keluasan gurun cahaya,
Mencoba menarik sepenggal perhatian,
Tapi hanya kau pandang dari sudut matamu,

Dan ketika semilir angin terkembang sayapnya,
Sejuk senyummu pun terurai menjadi badai,
Yang meruntuhkan kedipan bintang itu,
Terjatuhlah aku mengerang dalam kedukaan.

Aku pernah menjadi batu karang,
Yang tak pernah goyah mempertahankan rasa,
Sedikit bergeming bukanlah sifat yang kumaklumi,
Tapi di matamu seakan aku tak pernah berdiri,

Seperti batang pepaya yang telah lelah berbuah,
Terhuyung tanpa kasihmu yang menyangga,
Dan rapuhlah aku dalam kesendirian ini.

Aku sering menjadi bukan diriku,
Tak jarang harus melupakan segudang ingatan,
Bersolek menutup ribuan belang di wajahku,

Agar aku menjadi seperti yang kau inginkan,
Agar aku menjadi dewi yang menaungi hidupmu,
Walau harus kuabaikan arti sebuah jati diri,
Yang kuwarisi sejak sebelum aku dilahirkan.


^Poetry Langit^
13/02/2012

Jumat, 04 November 2011

Aku adalah kamu.

Mataku adalah kamu.
Dimana aku tidak lagi menaruh siapa-siapa disana.
Sisanya adalah kamu. Semuanya.

Entah apa jadinya jika kamu pergi nantimungkin aku tidak akan berbentuk lagi, karena bentukku adalah kamu.

Waktu adalah kamu, yang begitu menyita atau aku yang menyita kamu?
Seperti tenang bila datang lewat bahasamu, yah kamu adalah kedamaianitu sungguh.

Dan percaya adalah kamu, yang membuat sebuah keyakinanakan waktu, dan kamu membuat aku mau membuka pintu.

Rindu adalah kamu,yang selalu muncul sejajar dengan bertambah jauh jarak ruang antara akudan kamu.

Rasa adalah kamu, yang membuat kata-kata mati tidak sanggupbertransformasi menerjemahkan semua bahasa rasa, mematikan elegi.

Akuadalah kamu. Kamu adalah aku. Satu.



Selasa, 01 November 2011

Aku ingin mati saja..

Jika kamu bilang kamu bukan malaikat,
lalu kenapa kamu selalu ada disampingku

Jika kamu bilang kamu bukan pujangga
lalu kenapa tiap perkataanmu bagai lirik tanpa irama

Jika kamu bilang kamu tidak sempurna
lalu kenapa kemunafikan tak pernah ada dalam hidupmu

Apalagi yang bisa aku tanyakan padamu
sementara wajahmu hanya tersenyum
setiap kali aku ingin tahu, "Untuk apa kamu disini?"

Jika kamu bilang kamu milik orang lain..
lalu kenapa kamu menangis ketika aku bahagia dengannya..

Bukankah ini jalan terbaik untuk kita?
ataukah ini jalan yang tak pernah ada untuk kita?

Saat ini hanya satu permintaanku..
Aku ingin mati saja..

-Sc-

Kamis, 29 September 2011

Mengapa kamu tak mau menjadi MATAHARI ku ?



Ketika kamu ingin menjadi bunga
Aku tetap mencintaimu seperti matahari
agar kamu dapat terus hidup dan berkembang
karena aku akan memberikan semua sinarku

Agar kamu tumbuh sebagai bunga yg elok
Walau aku hanya dapat memandang dari jauh
dan pada akhirnya kupu kupu jua yg akan menari bersamamu

Ketika kamu ingin menjadi bulan
Aku tetap mencintaimu seperti matahari
agar kamu dapat terus bersinar indah dan dikagumi.

Cahayamu yang indah, adalah pantulan cahayaku
tetapi saat semua makhluk mengagumimu
tiada seorangpun yang ingat kepadaku :'(

Aku rela memberikan cahayaku untukmu
walaupun aku sendiri tidak bisa menikmati cahayamu
lupakanlah jasaku dan kemuliaanku
walau aku pemberi cahayamu

Aku ingin kamu mendapatkan kemuliaan..

Hanya demi kamu yang tak menganggapku..

:puppyeyes::puppyeyes::puppyeyes: